Partai Golkar, Pancasila, dan Demokratisasi

GOLKAR3 6

Internal partai Golkar juga mengalami hal yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir, Golkar dirundung persoalan kepemimpinan pusat. Perebutan kursi pemimpin partai menyebabkan terjadinya dualisme kepemimpinan. Realitas ini berujung pada instabilitas internal partai dan pada saat yang sama menyulitkan partai untuk merealisasi agenda politik demokratis secara maksimal.

Hemat penulis, realitas di atas merupakan sebuah tantangan besar bagi eksistensi partai-partai politik, khususnya Golkar. Tentu, sampai saat ini Golkar telah banyak berjasa dalam menguatkan ideologi Pancasila dan mendorong demokratisasi secara maksimal. Namun, kinerja positif Golkar menjadi kabur ketika publik sudah memiliki perspektif tersendiri dan menggeneralisasi parpor sebagai tidak krediel.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Oleh karena itu, dalam kesempatan istimewa hari ulang tahun (HUT) ke-56 Partai Golkar, penulis memproposalkan beberapa gagasan berikut. Pertama,  soliditas internal partai. Soliditas internal merupakan sebuah prakondisi bagi tercapainya agenda politik Golkar. Soliditas juga bertalian erat dengan karakter Golkar sebagai sebuah partai yang secara historis sarat akan kolektivisme dan kekeluargaan dalam pengambilan keputusan politik. Ini merupakan sebuah kebajikan yang berdaya positif bagi eksistensi partai Golkar.

Kedua, revivalisasi historisitas Golkar. Historisitas yang dimaksud adalah perjuangan, prestasi, dan militansi Golkar dalam menghadapi turbulensi politik pada akhir era Orde Baru dan pada awal era Reformasi. Pada waktu itu, Golkar berhasil melewati serangan publik dan elit politik oposisi. Hal itu tidak terlepas dari cara Golkar menangani krisis dan mengorientasi diri di tengah krisis dan tuntutan publik. Hemat saya, ini merupakan sebuah pelajaran penting yang tidak boleh dilupakan oleh partai Golkar.

Pos terkait