Kebangkitan Golkar tersebut menyata dalam lanskap politik kontemporer tanah air. Dalam sejumlah perhelatan pesta demokrasi selama era Reformasi, Partai Golkar selalu berada di antara 5 besar partai dengan elektabilitas tertinggi. Beberapa lembaga survei membuktikan bahwa sampai pada pemilu 2004, Golkar berada di urutan kedua, setelah PDIP, sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi. Meskipun dalam Pemilu 2019 peringkat elektabilitas Golkar disalip Gerindra (tempo.co, 11/5/2018), kedudukan dan peran penting Golkar bagi perkembangan politik nasional tetap berjalan secara meyakinkan dan mendapat sambutan baik dari rakyat sendiri. Hal ini terepresentasi melalui prestasi Golkar yang berhasil meraih 85 kursi di senayan, terbanyak kedua setelah PDIP (kompas.com, 13/9/2019). Data ini menunjukkan bahwa rakyat percaya pada kader-kader Golkar, dan pada saat yang sama, percaya bahwa Golkar dapat memediasi dan mengartikulasi aspirasi politik mereka melalui paket legislasi atau kebijakan politik. Fakta ini juga mengafirmasi peran penting Golkar dalam percaturan politik tanah air. Dengan demikian, kiprah melintasi tiga era ini membuktikan kualitas dan vitalitas Golkar bagi politik Indonesia.
Demokratisasi dan Pancasila
Sebagaimana partai politik lainnya, Golkar juga memiliki kewajiban inheren agar mengupayakan strategi-strategi nyata demi menguatkan kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara, dan mengakselerasi demokratisasi sebagai agenda politik era Reformasi.
Hal ini bukan merupakan sebuah pekerjaan sulit bagi Golkar, sebab secara ontologis-historis, partai ini dibentuk untuk mempertahankan Pancasila dan memajukan demokrasi sebagai sistem politik yang dianut oleh negara Indonesia. Fakta historis ini dapat menjadi inspirasi dan titik tolak Golkar dalam menyikapi persoalan-persoalan seputar Pancasila dan demokrasi.







