Oleh Pater John Naben, SVD
Kita semua tahu dan sudah menjadi aturannya, pemimpin atau pejabat diangkat secara resmi melalui pelantikan. Banyak dari antara kita yang mungkin pernah melihat atau menyaksikan secara langsung acara pelantikan Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati, DPR dan seterusnya. Acara pelantikan itu, biasanya cukup meriah. Ada pidato, resepsi, ramah-tamah, atraksi menarik oleh masyarakat atau anak sekolah. Lalu, para pejabat dan undangan duduk dipanggung kehormatan, sedangkan para simpatisan, masyarakat kecil ataupun anak-anak sekolah yang dilibatkan menempati ruang pinggir, yang tidak bertenda (terop), mereka kepanasan, kehausan dan harus cari minuman dingin, ale-ale, aqua mineral dan jajan agar tidak lapar atau haus ataupun pingsan.
Makin tinggi jabatan, makin ramai acaranya. Untuk ukuran di Manggarai, sebuah pelantikan biasanya dibuka atau didahului dengan acara Caci (Tari Perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki, yang bertarung dengan cambuk), dua atau tiga hari sebelumnya. Pokoknya ramai.
Melalui pelantikan, pejabat mulai menjalankan tugasnya secara resmi menjadi abdi negara atau pelayan masyarakat. Pengertian dasar dari abdi atau pelayan adalah tugas seorang hamba yang melayani tuannya.
Demikian juga dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Sebelum tampil dihadapan umum untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah, Yesus dilantik oleh Bapa-Nya. Pelantikan Yesus agak sepi. Tidak ada pidato hebat apalagi atraksi menarik. Juga tidak ada tepukan tangan meriah. Yesus dilantik secara sangat sederhana melalui pembaptisan di Sungai Yordan oleh Yohanes.







