Oleh Robert Bala

Hasil Hitung cepat dan penghitungan riil sudah menjuruskan kemenangan Golkar di 5 dari sembilan kabupaten di NTT. Ini hasil yang cukup mencolok. Partai lain seperti PDIP dan Nasdem yang cukup menonjol di NTT malah terseok-seok dan hanya menang di 3 kabupaten. Mereka hanya memperoleh setengah dari pencapaian Golkar.
Apakah kemenangan ini merupakan bukti bahwa Golkar yang dulu kini tengah mengalami proses metamorfosis? Ataukah kemenangan ini terjadi karena gradasi kebosanan yang meningkat terhadap partai besar seperti PDIP dan Nasdem karena gagal menerjemahkan aura perubahan yang digaung-gaungkan?
Secara poistif, perlu diakui bahwa hasil yang dicapai kini bukan sebuah kebetulan. Ia adalah hasil dari sebuah proses. Hal itu sudah dibuktikan, bahkan setelah lengsernya Soeharto, sang arsitek Golkar dari kekuasaan. Logikanya, mestinya suluh Golkar padam bersama perginya Soeharto. Justru yang terjadi tidak demikian.
Memang selama masa Orba, Golkar memang tidak tertandingi sama sekali. Ia bahkan sudah menjadi pemenang pemilu jauh sebelum pemilu dilaksanakan. Para caleg sudah menempatkan diri sebagai ‘caleg jadi’ dan ‘caleg penggembira’.
Tetapi kondisi seperti ini ternyata tidak berubah terlalu drastis pasca reformasi. Golkar selalu menempati posisi 2 dan 3. Malah pada Pemilu 2004, ia tampil sebagai juara. Tentu saja juara di era reformasi tidak seperti era Orba. Kemenangan belasan, apalagi 20-an persen itu sudah hebat sekali. Bisa dipahami. Parpol yang mengikuti pemilu puluhan.







