Yang terjadi dalam Golkar kini barangkali sebuah metamorfosis tak sempurna. Di sana terjadi perubahan tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang sama sekali berbeda sama sekali. Yang ada, bentuk tubuh tetap sama ketika kecil sampai dewasa, dari larva dan imago. Contoh paling kelas terjadi pada walang, kepik, rayap kutu, jangkrik, capung, dan lain-lain.
Perubahan tak sempurna ini menyadarkan bahwa kemenangan yang diperoleh kini bukan segala-galanya. Ia tidak bisa menghadirkan eufori berlebihan agar menganggap diri paling hebat. Yang ada bahwa hanya terjadi perubahan biasa dari yang tidak memiliki kekuasaan kepada memiliki kekuasaan tetapi belum lahir dari sebuah perubahan radikal.
Dalam metamorfosis yang tak sempurna seperti ini, godaan untuk terjebak masih sangat kuat. Orang-orang lama masih tetap ada. Meski ada perubahan tetapi belum begitu mendalam sehingga belum terlalu meyakinkan. Dengan itu pula kemenangan yang diperoleh tidak perlu sampai lupa daratan seakan Golkar sudah begitu meraja. Itu hanya tanda alam yang dihadirkan dalam bentuk ‘gejala’. Tafsiran atas gejala dan tanggapan perubahan itu perlu dikemas lebih lanjut.
Tetapi di atas semuanya, kemenangan yang diperoleh tidak bisa disangkali bahwa ia juga perlu disyukuri. Ia jadi bukti pengakuan akan kader Golkar. Minimal masyarakat masih yakin bahwa kaum ‘tua’ di Golkar adalah orang-orang yang memiliki daya tahan dan komitmen pada perjuangan. Sementara itu kaum milenial diberi ruang cukup fleksibel untuk bergerak mentransformasikan Golkar.







