Malah ada virus yang sangat berbahaya bagi hidup religious, yaitu ketika doa dan ritus agung lain hanya menghadirkan kenyaman semu karena takut berbenturan dengan realitas sosial dan politik. Padahal Yesus justru berani berbenturan dengan realitas sosial-politik untuk membentuk sebuah hidup baru yang lebih benar dan adil.
Bukankah sebuah bentukan baru hanya bisa lahir dari sebuah benturan? Benturan itu kalau dilakukan dengan intensi yang mulia: demi kebaikan dan kemaslahatan publik, Tuhan tidak pernah tidur. Orang Jawa bilang: Gusti Mboten Sare. Lewotana tidak akan bungkam.
Orang Lamaholot di Flores Timur dan Lembata memiliki uangkapan yang sangat bermakna. Lera Wulan Tana Ekan. Tuhan yang di “atas” dan tanah, leluhur yang di “bawah.” Kedua unsur religius ini menyatu dalam tubuh manusia untuk menguatkan kerapuhan. Maka orang yang berjuang untuk kebenaran dan kebaikan-walau dia sendiri penuh dosa-pasti akan mencapai gerbang bahagia karena Tuhan dan Lawotana meneguhkan.
Menderita Sekaligus Menjanjikan
Di antara tumpukan buku-buku yang menggunung, saya tertarik dengan sebuah buku fotografi kecil dan tipis bertajuk “East of Dolorosa” karya fotografer profesional Oscar Motuloh (Penerbit Lamalera, 2005).
Buku ini berisi foto-foto jurnalistik yang menarasikan Flores Timur dan Lembata yang lekat dengan idiom-idiom ilmu sosial “semua yang serba terkebelakang, yang terlupakan, yang termiskin, yang terabaiakan” (Hal 5).
Nyaris semua yang beraroma negatif melekat pada wajah provinsi yang terkenal “daerah minus” ini. Maka tepatlah bongkahan wilayah serba terkebelakang ini dijuluki: East of Dolorosa, Timur yang melarat, yang sengsara. Kemelaratan dan kesengsaraan itu terekam dalam bidikan kamera yang tampak indah dalam pencahayaan tapi menyesakkan dada. Infrastruktur jalan yang sangat buruk, rumah-rumah warga yang reyot, lingkungan kumuh tempat berkembang-biaknya aneka penyakit menular berbahaya bagi tubuh yang ringkih, alam yang kering kerontang menarasikan kemiskinan pangan.







