Politik: Gerbang Rasional Menuju Masa Depan

ilustras korupsi

Oscar Motuloh melalui deretan rekaman foto jurnalistik tidak semata berhenti pada narasi East of Dolorosaa. Di balik penderitaan, kesengsaraan dan kemiskinan hadir wajah-wajah yang kukuh, kuat dan teguh menantang kekerasan kekuasaan dan kekikiran alam yang menakutkan. Kemiskinan, kesederhanaan, keterbelakangan tidak semata dilihat sebagai bencana, malapetaka, juga bukan kegelapan masa depan melainkan utopia, mimpi yang menyuratkan sebuah masa depan yang menjanjikan harapan. Wajah yang tersenyum, urat-urat dahi yang menegang, lengan hitam legam yang berotot terbakar terik matahari dan sorotan mata tajam seolah menembus realitas kemiskinan yang menganga.

Berbagai tragedi hidup tidak pernah melumpuhkan semangat membaja yang terus bergelora ibarat laut pantai selatan yang terus bergelora dan setia melumat bibir pantai berbatu. Ada bakat, talenta, semangat, harapan, etos kerja unggul yang adalah blessing in disquise (rahmat tersembunyi) yang boleh saja disemai melalui berbagai ritus adat dan gereja yang kadang terasa kedaluwarsa dan tampak kusam di tengah terjangan badai zaman yang mengagungkan uang dan budaya hidup konsumerisme yang beranak pinak dari arus gerakan global kapitalisme, modernisme dan globalisasi.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ada fakta Providential Dei (Penyelenggaraan Ilahi) yang bisa dirunut dengan akar religiositas yang sesungguhnya tersembunyi di balik nasib yang tidak pernah akan tuntas dimengerti. Narasi itu menyembulkan makna hidup terdalam yang selama rentang waktu ratusan tahun dirajut dalam diam tapi penuh gelora. Anyaman makna hidup itu hanya bisa kita rasakan dalam senyum Lamafa (juru tikam ikan paus) dan nelayan saat kembali melaut (leva) dengan hasil tangkapan ikan paus raksasa tergeletak di pantai Lamalera.

Pos terkait