Yunus tidak segera ke Niniwe. Ia menghindar ke Tarsis. Pelarian Yunus beralasan, pertama, Konsep berpikir yang partikularistik sebagai efek lansung dari klaim keyakinan Israel sebagai bangsa pilihan, bangsa kudus dan paling benar, maka anugerah keselamatan hanya untuk Israel. Sikap superioritas ini men’dna’ pada Yunus sebagai tribe Ibrani. Konsep dimaksud dengan sendirinya menolak (secara radikal) konsep anugerah keselamatan universalistik (juga untuk bangsa lain).
Kedua, tugas perutusan sebagai nabi itu berat. Karena seorang nabi harus menjadi “saksi” Allah. Kata ’saksi’ dalam bahasa Yunani adalah “martus”. Kata “martus” ini bisa berarti saksi, syahid atau martir. Menjadi ”saksi Allah” berarti siap untuk martir (korbankan jiwa dan raga).
Konsep sakral kemartiran, terwariskan dan amat mungkin jadi alasan Yunus untuk tidak sedia menjadi ”martir”. Kisah Kitab-Kitab membuktikan hal ini. Musa, misalnya ketika dipanggil oleh Allah, sempat menolak. Ia beralasan tidak pandai berbicara (bdk. Kel. 4:10); Yeremia ketika dipanggil oleh Allah, ia beralasan tidak pandai berbicara dan masih muda (bdk. Yer. 1:6). Walau di akhir kisah semua tetap bersedia menjadi nabi Allah. Yunus juga.
Yunus menjadi utusan dan tanda pertobatan penduduk Niniwe. Oleh pewartaan Yunus seluruh penduduk Niniwe juga rajanya akhirnya bertobat dan kembali kepada Allah. Wujud tobat ditunjukkan melalui puasa dan mengenakan kain kabung. Jadi puasa mereka tidak hanya aksi yang melahirkan lapar dan dahaga secara fisik-lahiriah- tetapi lapar dan dahaga akan Allah.







