Puasa : Niniwe Rujukan Pertobatan

IMG 20250329 WA0009

Kita diutus untuk membela dan berpihak pada kebenaran dan memperjuangkan keadilan. Karena jika tidak berani melakukan pembaharuan berarti masih butuh ”Yunus yang lain”, yang siap menobatkan kita agar mudah diasupi rahmat karena lapar dan dahaga akan Allah.

Kejahatan utama penduduk Asyur di kota Niniwe adalah penyembahan berhala (kafir), melakukan kekerasan dan tindak kejahatan. Lalu apa berhala kita? Berhala kita lebih modern, serupa perjudian, mabuk-mabukan, perzinahan, pelecehan seksual, percabulan, ketamakkan, perampasan, materialistis, pikiran, perasaan dan kemauan negatif, gaya hidup hedonis, gemar pada kebiasaan buruk, tidak disiplin dengan waktu, pekerjaan/ tugas, dan regulasi.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Secara sadar dan tahu, masih setia dan gemar melalukan yang salah dan sulit untuk melepasnya. Gemar untuk terus berkuasa dan melakukan manipulasi. Biasa melakukan yang salah namun menganggap atau memandangnya sebagai benar. Padahal kehidupan iman menuntut untuk tidak membenarkan kebiasaan yang salah, tetapi membiasakan kebiasaan yang benar.

Penyembahan berhala modern adalah praktek-praktek kafir. Pengertian ”kafir” tidak hanya terbatas pada orang-orang yang tidak menganut agama (resmi) namun lebih jauh berarti perilaku jahat (serupa contoh di atas), ditambah pengkhianatan terhadap kejujuran dan suara hati/ nurani (penyelewengan, penyalahgunaan kuasa dan jabatan). Jika ada demikian, secara formal ada identitas personal beragama (resmi), namun kafir dalam keyakinan.

Sadar atau tidak, sebagai umat Allah, tidak sedikit orang yang mempraktekkan sikap Yunus dalam kehidupan praksis. Sikap ”lari ke Tarsis” yang dapat dianalogikan dengan bersikap acuh-tak acuh/ masa bodoh, tidak setia, mempersulit orang lain, Karena itu tobat atas sikap demikian diharapkan tidak hanya terjadi di momen puasa dan setelahnya kembali normal.

Pos terkait