Oleh: Al Hayon Vinsens
Retret para kepala daerah di Lembah Tidar, Magelang kirahnya mendulang hasil. Hasil yang dicapai, disinyalir seperti ini, telah terbangun sinergi di antara para pejabat untuk dapat bekerja dengan harmonis dan berfokus pada kepentingan masyarakat. Pada retret kolektif itu mereka boleh jadi bernazar bekerja untuk rakyat karena mereka datang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Walau ada peyorasi makna retret dari tradisi religious, namun boleh juga istilah retret diperuntukan bagi agenda kegiatan di masa pemerintahan Prabowo-Gibran. Yakin, ia punya dasar dan tujuan mulia, seperti untuk sadar status, sadar kedudukan, dan sadar jabatan sebagai orang nomor satu, pemimpin-pejabat dan penguasa di daerah. Posisi sadar ini diyakini menggiringnya menjadi pelayan masyarakat, tidak hanya dengan kata-kata tetapi utamanya adalah tindakan nyata.
Mengutip Asep Hunaifi (Kompas, 3/3/2025), “Retret yang diselenggarakan bukan sekadar pelatihan kepemimpinan. Ia adalah sebuah drama kekuasaan, dipentaskan dengan teater negara, di mana setiap langkah, setiap kata, membangun makna kolektif yang melampaui kebijakan semata”.
Tulis Asep lanjut, “Dalam bingkai pemerintahan Prabowo-Gibran, retret ini mejadi bagian integral dari ritual Negara, di mana simbol dan gesture berpadu dalam harmoni yang membangkitkan legitimasi, aksi dan kekuasaan.”
Atas kutipan ini, terlepas dari penafsiran lain, maka aktivitas kepemerintahan (memimpin, menjabat dan berkuasa) harus dimulai dengan berkumpul, duduk bersama, berdialog, berwawan hati, satukan pemahaman, sadar status, kedudukan dan jabatan sebagai pelayan masyarakat.







