Beretret menjadi moment bermartabat menegakkan “nazar populis”. Bahwa “Setiap kepala daerah siap melahirkan kebijakan yang efektif dan terasa manfaatnya bagi rakyat serta membangun pemerintahan yang efektif. Konten retret demikian adalah ekspektase top-down dan sebaliknya.”
Re-Tret Sebagai Tardisi
Menurut tradisi religius, retret sesungguhnya kegiatan spiritual karena mencakupi aksi untuk menggali kedalaman diri dan menyadari bahwa manusia adalah mahkluk berbadan yang menjiwa dan sebaliknya jiwa yang membadan. Manusia tidak hanya jasmaniah tetapi sekaligus rohaniah karenanya dia perlu “be alone with God” sebagai Sang Asal.
Secara literer, kata retret berakar dari bahasa Latin, re-trahere, yang artinya “Menyeret ke belakang” atau “menarik kembali”. Arti literer ini selanjutnya dimaknai sebagai “menarik diri dari segala aktivitas rutin jasmaniah untuk berefleksi (merenung), berdoa atau berhening (meditasi). Lebih lanjut retret bermakna sebagai kesempatan memberi kesunyian kepada diri (berdiam diri), untuk mengalami Tuhan dan menyelami “Who am I”.
Dalam diam ini, peserta retret bertanya diri, “dari mana saya dan akan ke mana saya”. Ke “mana” merujuk kepada perjalanan kepada “Asal”. Secara internal dan substansial kegiatan ini menggerakkan seseorang yang sedang beretret melakukan dialog dan bertanya diri, “apa yang mesti dilakukan untuk sampai kepada Dia – “Sang Asal”.
Padanannya dalam bahasa biblis, “apa yang harus saya lakukan untuk memperoleh hidup kekal”? Jadilah kemudian pemahaman akan retret lebih ke ranah spiritual sebagai suatu dorongan dasyat dari dalam diri (yang rohaniah) untuk “to be alone with God”.







