Nazar (dan niat tulus) pemimpin-pejabat saat retret di lembah Tidar, Magelang boleh juga dielaborasi dengan kompetensi akal (kebrilianan) dan kompetensi hati (wisdom-kebijaksanaan) seturut pemikiran Einstein untuk tugas karya bagi rakyat.
Sementara itu berkaitan dengan pola pikir ganda yang lahir dari trik Einstein “Sengaja salah” di kelas – sesuai kisah, membuka horison pemahaman dan aksi kinerja yang membawa sesuatu yang bermanfaat dan dijunjung sebagai prinsip dan pedoman kehidupan.
Pola pikir ganda Einstein yang terbersit dari kisah di kelas itu mengajarkan kepada kita, khususnya para pemimpin-pejabat untuk bersikap kritis, kreatif dan inovatif dalam menjalankan kepemimpinan. Perlu keberanian menghadapi tantangan dan keluar dari comfort zone, self-thingking, dan atau berpikir menurut perspektif segelintir orang.
Tidak hanya itu, kiranya pemikiran ganda si ilmuwan itu mengilhami untuk berpikir paradoks. Tidak lebih suka membesarkan hal-hal yang negatif dari seseorang walaupun kesalahan itu dalam skala kecil, tetapi sangat perlu membesarkan hal-hal positif dari seseorang walaupun hal-hal itu bersakla kecil namun untuk kepentingan besar. Analoginya sama dengan menghargai atau menghormati dan peduli pada usaha kecil yang berdampak besar.
Nilai positif lain dari cara pikir Einstein dan triknya di depan warga kelas, kiranya mengilhami pemimpin-pejabat untuk berani mencoba melakukan terobosan baru demi kesejahteraan rakyat dari pada tidak melakukan apa-apa karena takut salah.
Sang Maestro di bidang pengetahuan ini mengajarkan untuk memiliki kompetensi akal dan hati dalam memimpin. Sebab dengan kompetensi-kompetensi ini pemimpin-pejabat berhasil memenangkan rakyat melalui kebijakan yang efektif, berpihak dan berdampak.







