Retret, Bernazar Populis di Lembah Tidar

vinsen a hayon

Tesis terakhir ini sangat mendukung hasil penelitian John Naisbith yang menekankan pemberdayaan kompetensi akal dan hati secara seimbang untuk keberhasilan kepemimpinan. Bersikap bijaksana (lahir dari hati) dalam memimpin juga penting. Jadi harus ada kemampuan menyeimbangkan keahlian dalam berteori dan atau beretorika dengan menghidupinya di ruang pramagtis. Itulah memimpin.

Einstein, yang rendah hati dan tidak menganggap dirinya dewa, dengan “trik sengaja salah” mau mengajarkan untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kesalahan yang bermanfaat untuk memperoleh kebenaran sejati, dan kebenaran sejati itu tidak hanya sebatas logika tetapi kebenaran berdasarkan kejujuran hati, yang menyebabkan rakyat mengakui dengan mulut mereka dan percaya dengan hati mereka akan karya-kerja pemimpin-pejabat.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dalam konteks yang lebih luas dan nyata adalah sangat dianjurkan untuk berhenti membenarkan kebiasaan yang salah  dan sebaliknya berani untuk membiasakan kebenaran sejati berdasarkan akal (realisitis fakta dan ril data serta intelek) dan hati (kebijaksanaan).

Efek nyatanya adalah meredam total sampai ke titik minus tendensi korup dari dan dalam diri dan hadirlah di hadapan masyarakat sebagai pemimpin yang inspiratif dan motivator, fasilitator dan komunikator dan bukan total sebagai instruktur dan manipulator. Implementasinya adalah bersikap terbuka dan bersedia mendengarkan suara, pendapat bahkan kritik rakyat demi sebuah perbaikan. Jika terlaksana anda telah menang perang.

Pos terkait