Renungan Harian Jumat 14 Februari 2025 : Efata (Markus 7: 31 – 37)

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Oleh Pater Kons Beo SVD

Kawan ku…

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Teringat lagi kata-kata itu. “Hukuman terberat bagi manusia itu bukanlah kurungan penjara. Bukan! Melainkan saat manusia itu ditekan untuk tidak boleh bicara. Diam seribu bahasa. Iya, ketika kemerdekaan berpendapat dicopot paksa.”

Kawan ku….

Kau tentu sepakat dengan pikiran itu, bukan? Jamak teralami bahwa manusia itu ‘dihukum paksa, dengan cara keras pun halus, untuk tak boleh atau gagal bersuara. Lidah jadi ‘mati kutu.’ Tak boleh berpendapat, apalagi deretan opini kontra. Yang menantang apapun yang zalim dan semena-mena.

Kawan ku…

Di lintasan perjalanan daerah Tirus, Sidon, daerah Danau Galilea, menuju daerah Dekapolis, ada kisah yang menakjubkan. Si gagap – tuli itu, oleh seruan “Efata” (terbukalah) dari Yesus, akhirnya “dapatlah ia berkata-kata dengan baik” (cf Mrk 7:35).

Kawan ku…

Mari kita berandai sekadarnya. Adakah telinga orang itu telah sungguh ‘dikacaukan’ oleh gelombang suara penuh tekanan? Bahwa telinganya itu telah disumbat untuk tak bisa sedikitpun mendengar suara kemerdekaan dan pembebasan?

Dan, kawan ku…

Apakah lidahnya benar-benar telah terikat rapat-rapat dan bahkan ‘telah mati bunyi’ untuk tak sanggup bersuara tentang Kasih, Kebenaran dan Keselamatan bagi semua?

Kawan ku….

Memang kita ini sepantasnya lebih teguh dalam iman. Sebab, ‘kuasa miring’ sedang mencari celah untuk ‘menutup telinga dan mengikat lidah kita’ dengan rupa-rupa cara dan hal yang berdaya pikat tinggi dan aduhai.

Kita akhirnya jadi gagap dan terbata-bata untuk bicara tentang Kasih, Keadilan dan Kebenaran.

Pos terkait