Periode pertama dalam genggaman SBS-(DA) dan periode kedua dalam genggaman SN-KT. Riak politik lahir dari perjalanan waktu. Demokrasi terlintas dan mulai tumbuh dari dinamika lima tahunan itu. Mengapa? Karena itu, pembangunan daerah juga membutuhkan harmonisasi dalam/dengan semua aspek.
Harmonisasi butuh gerakan hati dan pikiran. Artinya, berpikir jernih dan ada kerelaan untuk menerima. Ada tindak-lanjut. Ada ketersinambungan program dari pemimpin sebelumnya. Itu berarti, program yang tepat untuk tujuan kolektif, tetap diperjuangkan, direalisasikan. Program yang tidak berdampak positif tak perlu segan untuk dikaji lagi.
Pada titik itu, butuh keberanian dan kebesaran hati dari pemimpin daerah untuk melanjutkan dan membuat inovasi kebijakan demi pelayanan publik yang lebih maju.
Usai pelantikan secara serentak, semua kepala daerah menuju Akademi Militer (Akmil) Magelang guna mengikuti kegiatan retret. Ini unik. Ada sharing antar-kepala daerah. Ada keselarasan gagasan untuk membangun Indonesia. Ada kekuatan baru. Ada motivasi baru yang bermuara pada inovasi dan kreativitas seorang kepala daerah.
Publik tentu menagih. Pasca-retret, apa yang akan dibuat kepala daerah? Apakah semua program terealisasi di tengah derasnya efisiensi anggaran? Seminggu di Akmil Magelang telah memantik SBS-HMS untuk siap melayani masyarakat. Optimisme publik tetap dibangun di tengah efisiensi anggaran yang kian menghimpit.
Pasca-retret di Akmil Magelang, alangkah lebih menarik, semua pimpinan perangkat daerah juga diberi retret sebelum Bupati dan Wakil Bupati menjalankan tugas. Biar ada keselarasan atau keharmonisan ide, gagasan dan kejernihan hati.







