Pluralisme politik seperti ini yang memudahkan Golkar beradaptasi dalam pelbagai spektrum “aliran politik” sekaligus menawarkan agenda kebijakannya pada rakyat di berbagai basis pemilih.
Membaca kematangan Golkar saat ini tentu tak terlepas dari kemampuannya mengarungi badai sejarah. Bagaimanapun Golkar salah satu aset politik besar yang dimiliki bangsa ini untuk membangun demokrasi yang bermartabat. Karenanya, pekerjaan saat ini dan ke depan adalah bagaimana agar Golkar tetap eksis melanggengkan pengaruhnya di kancah politik nasional?
Pertama, penguatan regenerasi untuk menghasilkan kader-kader yang berintegritas dan loyal terhadap nilai-nilai ideologis Golkar. Menurut Miriam Budiardjo (2008), partai yang modern selalu siap dan berkomitmen untuk mendesain instalasi regenerasi dan kaderisasi parpol yang terikat oleh nilai demokratis. Golkar harus membudayakan sirkulasi kepemimpinan yang koheren dengan suara, keinginan kader serta nilai-nilai keadilan dan populis.
Kedua, dalam jangka panjang hal yang cukup strategis dilakukan oleh Golkar ialah membuktikan diri sebagai partai dengan spirit baru yang berjarak dengan kesan personalitas dan familialitas politik. Personalisasi kekuasaan dalam situasi tertentu memang bagus untuk mengintegrasikan pemikiran faksional dalam partai. Tetapi dalam jangka panjang, model seperti ini membonsai demokrasi karena menjadi bibit yang mengokohkan fenomena politik pragmatisme seperti politik dinasti. Suatu corak politik yang identik dengan pemotongan rantai kaderisasi dan penyempitan akses kekuasaan dengan merujuk pada preferensi individual atau kelompok tertentu semata.





