Tidak Tahu Lagi Harus Buat Apa?

Kons Beo5
(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

Hitung saja, bahwa jumlah usia produktif makin melambung. Kata data tahun kemarin (2022), ada 190,83 juta jiwa (69,3%) manusia Indonesia di usia produktif. Terdapat 67,16 juta jiwa (24,39 %) yang belum produktif, dan lagi ada 17,38 juta jiwa (6,31 %) di area post produktif.

Di jelang ajang pilih pemimpin, dari level pusat hingga daerah, “akan disiapkan lapangan pekerjaan demi kualitas hidup manusia Indonesia yang bercitra” telah jadi kalimat sedap terdengar. Namanya saja ‘janji politik’ atau katakan saja enaknya bahwa ‘tetap ada harapan…’

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Namun, yang luar biasa penuh pasrahnya manusia Indonesia adalah ‘demi kerja, demi apa yang dihasilkan, dan demi jaminan hidup’ yang tak terelakkan ini toh masih tetap berserah diri pada kalimat sakti dari para calon pemimpin:  ‘kami akan menciptakan lapangan pekerjaan…’

Jika memang itu hanya sebatas ‘lips service politis’ di ajang temu massa demi meraup suara lima tahunan, maka apakah kepasrahan pada nasib hidup, atau pekerjaan (yang tak kunjung nyata) mesti berlanjut? Toh,nyatanya nanti orang-orang itu sajalah yang dicurigai berat meraup untung besar dari janji dan terobosan-terobosan pembangunan.  Lalu?

Jika ini yang terjadi, maka bersiap-siaplah untuk ‘menampung’ generasi galau, angkatan manusia penuh baperan nan sensitif miris. Generasi yang belum atau tidak punya pekerjaan. Di usia-usia yang masih ‘gertak batang-batang atau ceriah bola mata sinar berbinar’ ada pertanyaan yang menakutkan dan bisa menyinggung rasa: “Ade kerja di mana, atau ade kerja apa?”

Pos terkait