Tidak Tahu Lagi Harus Buat Apa?

Kons Beo5
(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

“Bekerja dengan sekian banyak waktu di siang maupun malam, apakah mesti dimuliakan sebagai tanda kesetiaan, tanggungjawab dan pengorbanan?” Atau kah mesti ditangkap juga sebagai alarm lain yang serius? “Hati-hati, Bro! Jangan lupa istirahat! Luangkan waktu juga untuk bersantai bersama keluarga (besar) dan para sahabat!”

Memang, dalam dunia yang makin berkembang, dengan ragam persaingan yang mesti dihadapi, pun dengan tuntutan kebutuhan dan jaminan hidup yang harus dipenuhi, manusia pertinya dipaksa untuk tenggelam dalam ‘lingkaran produktif.’ Dan persis di situlah beban dan volume kerja bisa ‘mengandung umpan untuk jawabi kebutuhan namun serentak juga amat potensial untuk terjun ke jurang keletihan rohani dan jasmani! Mari kita bidik ke soal lain lagi….

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dan kini, selain ada ‘yang kerja sungguh, bahkan terlalu sungguh-sungguh, tertib dalam kerja, dengan segala perencanaan yang jelas dan terukur, terdapat pula ciri lain dari kelompok (khusus) yang kita ‘istilahkan’ saja sebagai ‘kelompok tidak tahu mau buat apa?’

Bukannya tanpa kemampuan atau tiadanya talenta, bukan pula karena tak ada lapangan kerja. Seringkali tanpa inisiatif, tanpa menangkap peluang, tanpa motivasi untuk bekerja, sudah menjadi tantangan yang mendasar.

Ini belum terhitung lagi ‘waktu produktif-kreatif’ yang sungguh terpangkas oleh ‘banyaknya waktu untuk hanya duduk ngobrol bacarita dengan tema yang itu-itu saja.’ Ini lebih repot lagi bila ‘duduk-duduk lama itu juga  ditemani ‘kartu di tangan dan miras di samping.’ Maka, ‘Kerja lembur tiada libur dan hidup  dimanja tanpa kerja’ itu sama-sama bahayanya.

Pos terkait