Jangankan rasa galau yang gerogoti hati kawula muda ‘belum kerja (tetap), generasi orangtua pun jadi kepikiran sekiranya ‘kaum mudanya belum miliki pekerjaan.’ Siapapun tak berharap akan datangnya dampak negatif dari ‘belum/tidak kerja’ baik secara pribadi maupun dampak sosialnya.
Katanya, “irama hidup yang tak jelas, serta ingin ini itu yang tak terpenuhi sudah bisa bikin suasana tsunami untuk seisi rumah. Orangtua jadi kepala sakit.” Katanya lagi, “Sekelompok kawula muda, yang masih bebas kerja tetap atau tak tahu besok dan seterusnya mau kerja apa sudah pada akrab dengan kumpul-kumpul sepanjang malam di sudut kampung dengan lagu andalan: Segeru manis pait, segeru manis pait, sepuluh sen harga satu botol. Rame-rame minum sampe mabuk tralalala, mabuk tralala,…” Ini yang bikin para orangtua yang jantungan tak bisa nyenyak di tidur malam. “Mabuk koq disoraki gembira tralala la”
Tetapi siapapun pada maklum, persoalan kerja itu bukan melulu pada masalah ‘belum atau tidak punya kerja.’ Sebab, setelah ‘dapat kerja pun selalu ada soal berikutnya. Telaah psikologis, misalnya, uraikan apa yang disebut sebagai tantangan terhadap Work Life Balance (WLB).
WLB ditangkap sebagai dinamika “menjaga keseimbangan antara pekerjaan atau tanggungjawab di tempat kerja dan di rumah.” Soal muncul ketika individu sekian larut atau ‘dipaksa’ untuk bekerja hingga di luar batas kesanggupan daya fisik dan kemampuan rohani. Di situ, dampak pribadi bisa dirasakan.
Stres dan berbagai penyakit seperti jantung dan stroke mudah mendera sebagai akibat dari tak adanya WLB. Tak hanya itu, ‘sekian larut atau terpaksa atau didesak oleh pekerjaan (untuk bekerja) bisa berdampak pada kualitas relasi sosial, semisal di dalam keluarga.






