Ustad  Kainama, Debat  dan Kegagapan Intelektual

Kons Beo5
(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

Sungguh disayangkan bahwa sebenarnya posisi tak jelas penuh ambigu masih mendera ustad mualaf sekelas Kainama dan kelompok sejenisnya. Antara ‘keislaman yang masih dangkal dan kekristenan yang telah dibencinya’ memang mengisyaratkan basis berpijak yang rapuh dan keberakaran yang dangkal dalam sikap batin religius-spiritual.

Patut kah Kainama mewakili kewibawaan dunia Islam di arena debat, yang tak bisa tidak, telah mengambrukkan rasa percaya diri dan bahkan harga dirinya sendiri?

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketiga, bagaimana pun patut ditelaah (seadanya) tidakkah (fenomen) Kainama ini nampaknya sungguh dirawat dan dilindungi sebagai aset bernilai. Semuanya berintensi untuk ‘mengganggu dan membuyarkan rasa nyaman dan damai dalam dunia kekristenan?’ Ganti dialog, atau sejenis share iman, misalnya, oleh level mualaf sekelas Kainama dan sejenisnya, telah berubah jadi hamburan kata-kata ‘suka-sukanya’ tanpa satu telaah yang harus dipertanggungjawabkan secara akademik.

Keempat, tetapi di alam kegalauan dan kegagapan ilmiah si Kainama, tidakkah telah terbentang karpet merah demi satu momentum evangelisasi? Di kisah debat itu, tentu tak seluruhnya  wajib disesalkan oleh Pendeta Soru. Plintar-plintir Kainama ke sana ke mari di arena terbuka itu tidak kah dilihat sebagai ‘blessing in disguise’ oleh Pendeta Soru untuk dinamika pencerahan iman Kristen dalam alur apologetik.

Sesungguhnya, bukan hanya Kainama in persona singular yang ‘diceramahi’ melainkan juga ‘kainama kolektif’ yang mesti dengan teduh namun tegas dicerahi oleh Pendeta Soru. Katakan semisal para ustad seperti Abdul Somad, si mualaf Yahya Waloni, Bangun Samudra, Rizieq Sihab, dan para ustad sealiran yang terbiasa ‘jago menggelegar’ dalam monolog menyerang atau ‘menghina isi iman Kristen. Tanpa pernah lewati pengalaman dialog atau debat langsung. Yang hanya ‘ribut melulu’ tentang kekristenan di hadapan pendengar setianya sendiri. Di titik ini, ya ‘bae sonde bae, Kaimana lebe bae’ dari yang belum punya hati atau keberanian untuk berdialog dan berdebat.

Pos terkait