Ustad  Kainama, Debat  dan Kegagapan Intelektual

Kons Beo5
(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

Inilah momentum, yang walau pun disesali, toh menjadi ‘kesempatan untuk bersaksi’ (cf Luk 21: 13-15). Ada banyak butir indah yang patut ditangkap dari arena debat berskala nasional itu. Iman, sederhananya, adalah cara memahami Tuhan Mahasegala, dan bagaimana menghayat isi ajaran agama itu dalam keseharian nyata dan dalam perjumpaan dengan sesama.

Kita, dalam rasa dan nilai keber-agamaan, tentu tidak menjadi ‘besar, mulia dan terlebih benar’ hanya karena telah merasa ‘di atas angin berhasil’ menghina dan menekan sesama yang lain, dan mencela isi iman sesama itu. Kita tidak boleh sekian enteng ‘bersembunyi’ di balik ‘untukmu agama-mu dan untukku agamaku’ saat merasa terpojok. Namun kemudian sekian ‘ganas dan bahkan membabi buta’ menyerang inti keyakinan dari yang ‘bukan kita.’

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Wah, sekiranya tarung batin si mualaf seperti Kainama mesti direnungkannya sendiri sebagai ziarah spiritual personal. Biarlah Kainama, dan para ustad mualaf sejenisnya mesti belajar lebih banyak lagi segala seluk beluk dunia keislaman. Terdapat masih banyak hal yang mesti dihafal dan dipahami sungguh! Perlu perjuangan yang tak gampang untuk dapat menemukan ‘bonum, verum et pulchrum’ sebagai warisan otentik dari Nabi Mohammad SAW. Dari pada hanya sekedar menghujat dan mencela sana-sini. Namun, pada titiknya kedapatan benar-benar kegagapan intelektual-akademik seperti di saat debat itu.

Ataukah sebenarnya (fenomen) Kainama ini adalah juga sebentuk arus hati benci tapi rindu nih ye…?’ Pura-pura membenci atau sebetulnya hati sungguh merindu untuk kembali, untuk pulang? Entahlah….

Pos terkait