(Refleksi Nilai dalam Ikatan Manusia Lamaholot)
Oleh Fabianus Boli Uran, S.IKom
Tulisan ini ditulis pada tanggal 1 Juni 2019. Penulis mengangkat kembali tulisan ini dalam refleksi peringatan hari lahir Pancasila tahun 2022 dengan tema Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia.
Tepat lima tahun, 1 Juni 2017, berlokasi di halaman Kantor Desa Lewotobi, Flores Timur sebuah refleksi peradaban yang hilang kembali diangkat dalam rangkaian kegiatan seminar budaya dengan Tema “Birawan Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis.”
Penulis merasa bangga karena menjadi bagian kecil dari proses ini. Penulis merasa bersyukur karena hasil kajian warisan budaya penulis menjadi sebuah referensi yang dibedah oleh sekian banyak narasumber dan akhirnya melahirkan keputusan lewo dan telah tertuang dalam Peraturan Desa.

Beberapa Keputusan Lewotobi dan Lewouran yakni pertama, konservasi terumbu karang; kedua, konservasi penyu dan telur penyu; ketiga, menarasikan warisan budaya dalam bentuk dokumentasi berupa buku; keempat, menanam pohon-pohon di pinggir pantai untuk mengatasi abrasi laut; dan kelima, membangun design wisata bahari berbasis budaya.
Poin satu sampai tiga sudah dilakukan. Untuk poin tiga, pada tanggal 28 Oktober 2018, bertepatan denga peringatan usia emas Desa Lewotobi (dulu nama Desa Birawan) buku dengan Judul Di Balik Kesunyian Lewouran Duli Detu Saka Ruka Paji Wuri diluncurkan sebagai kenangan atas ziarah Lewotana.







