Oleh P. Kons Beo, SVD
“Beruntunglah penguasa yang rakyatnya tidak mau berpikir” (Adolf Hitler, Pemimpin NAZI Jerman, 1889 – 1945)
Saat itu, darah dan air mata belumlah kering. Masih berhembus angin badai nasional dari Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu 2 Oktober 2022. Bawa kabar pilu ke Sabang sampai Merauke, bahkan hingga ke ujung-ujung dunia. Ratusan korban sia-sia berjatuhan. Satu demi satu putus nyawa. Tragedi yang sungguh menggetirkan. Kisah Arema-Malang yang telah dilumat Persebaya-Surabaya pun berujung duka menyayat.
Di Jakarta, di NasDem Tower nan megah, di hari berikutnya, Senin, 3 Oktober 2022, Surya Paloh, atas nama Partai NasDem, maklumkan kandidatnya untuk RI 01 – 2024. Sontak, ramai suara sumbang tak terhindarkan. Menggilas Paloh dan NasDem sejadinya. Dalam sinis dan marah, tentunya. Sepertinya tak berbelah rasa dalam duka bersama. Tapi, sudahlah. Politik tampaknya tak risau akan situasi seram dan suram yang barusan terjadi. Ia tegar dan mati-matian ingin ciptakan dinamika dan iramanya sendiri.
Tampaknya, Paloh ingin bernyali, “Emangnya Gue pikirin…” Tetapi, masakan itu yang mesti dikemas sebagai opini dan interpretasi terhadap keluarga besar NasDem? Bukankah Paloh punya jiwa nasionalis? Tak mungkinlah ia sekejam dan senekad untuk berikhtiar seperti itu. Namun, tak sedikit pula yang meragukannya. Mau bagaimana lagi?
“Politic is king of all the kings.” Dari yang indah, glamour, berkelimpahan hingga yang paling miris sekalipun, semuanya bisa dipolitisasi. Itulah ‘seni serta piawainya gerak dari arus politik itu. Ia mesti dikaroseri sekian samar namun berujung pasti demi kepentingan.’ Cita rasa politik itu, katanya, variatif, tak pasti, dan ramai rasanya. Politik itu juga lincah untuk beradaptasi. Sulit ditebak ‘dari mana datangnya dan ke mana perginya.’ Sebab, ia bukan dogma yang terkesan kaku, pasti dan terpaku mati serta “wajib seperti itu sudah.”







