Oleh Al Hayon
Puasa sedang berlangsung, dan terbersit harapan tidak hanya melahirkan tobat, tetapi juga menghantar kepada kesadaran akan ”panggilan menjadi manusia dan umat Allah”. Puasa pada konteks ini tidak sebatas aktivitas seremonial lahiriah dan kegiatan keagamaan semata tetapi utamanya untuk sadar dan bangun (aspek) rohani.
Intensi suci itu akhirnya sampai juga pada kehidupan kaum Asyur di kota Niniwe. Niniwe adalah ibu kota kerajaan Asyur, terbesar dan terpenting dalam sejarah Asyur, (sekitar 900 hingga 612 SM). Kota ini terletak di tepi timur sungai Tigris dan Mesopotamia utara. Sekarang, lokasi itu berhadapan dengan kota Mossul di Irak modern.
Gemerlap kota amat menawan, bagai sorga dunia sementara itu tercatat pada medan hidup praksis, dari kaca mata agama, ada konklusi bahwa tidak perlu bersusah-susah menuju pintu neraka. Tampilan area kantong-kantong elite amat menonjol dan sejajar dengannya ada deretan getho kumuh dan kriminal tersebar subur.
Penduduk Niniwe penyembah dewa-dewi (nabu dan isytar). Mereka kafir. Sebelum nabi Yunus datang ke sana, situasi kota dan penduduknya sangat malang dari aspek rohaniah. Raja berkuasa dengan kekerasan dan kejahatan serta sangat otoriter.
Korban sembelihan dan korban manusia, jadi pandangan lumrah untuk penyembahan dewa-dewi. Kompetisi hidup kalangan bawah, tinggi disertai praktek hukum rimba yang kuat. Allah tergerak hatinya untuk tidak meninggalkan umat-Nya malang. Keselamatan harus untuk kaum Asyur di kota Niniwe dan Yunus ke sana.







