Berdoa Dengan Tidak Jemu-Jemu

IMG 20241231 WA0018

Sedangkan Karim, si Tukang Kayu yang baik hati itu; dia adalah seorang yang beriman teguh; yang menaruh seluruh harapannya hanya kepada-Ku saja, entah Saya mendengarkan permohonannya atau tidak. Dia tidak akan pernah jemu-jemu berdoa dan memohon. Bahkan, semakin lama Saya menunda untuk mengabulkan doanya, dia semakin beriman dan semakin kuat menaruh harapannya hanya pada-Ku saja. Dan sekarang, Karim sudah begitu dekat dengan Saya, sehingga bagi dia, tidak ada masalah lagi, entah Saya menyembuhkan dia atau tidak. Saya sudah menjadi segala-galanya bagi dia’.

Injil hari ini (bdk. Luk. 18:1-8) berbicara tentang doa yang seharusnya disampaikan dengan tidak jemu-jemu; tidak bosan; dan tidak putus asa. Hal ini kita dengar dalam perumpamaan tadi. Seorang janda yang datang terus-menerus kepada seorang hakim untuk menuntut haknya. Akhirnya hakim itu mengabulkan permohonannya, bukan karena suatu alasan yang murni. Permohonan janda itu dikabulkan karena ia datang terus-menerus dan supaya ia (hakim) merasa bebas dari gangguan si janda itu.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Cerita Injil tentang si janda ini mengajarkan kita untuk berdoa dengan penuh kesabaran. Zaman sekarang adalah zaman serba cepat. Ada alat masak listrik, ada setrika listrik, ada alat pemanas air yang super canggih, ada motor dan mobil yang pakai cas saja. Iklan-iklan di TV menawarkan berbagai macam produk cepat-saji dan serba cepat. Manusia ingin juga serba cepat. Proses lama, out of date. Atau ketinggalan zaman.

Doa tidak mengenal budaya cepat atau lambat. Doa membutuhkan kesabaran. Sikap sabar adalah sikap seorang yang beragama dan yang beriman kepada Allah. Dalam bacaan pertama, orang Israel menang dalam peperangan melawan orang Amalek, karena Musa dengan sabar mengangkat tangannya ke atas, sebagai sikap berdoa.

Pos terkait