Kita memang mesti kembali mengarungi samudra kehidupan bersama waktu. Api ‘move on’ sudah membara. Hangatkan jiwa. Tiupkan semangat baru. Apa-apa yang pahit dan penuh keluh di dada pasti punya sisi blessing in disguise-nya. ‘Yang berair mata kini bakal berdendang dalam sorak dan tarian.’
Namun, semudah itukah untuk mesti bergerak maju? ‘Move on’ tampaknya punya tuntutan pasti. Hanyalah ‘sebuah kerelaan dan keberanian untuk melepas. Iya, tinggalkan yang sudah-sudah.’ Ikhlas! Penuh kebesaran hati. Tetapi, semudah itukah?
Si bijak bertanya penuh tantang, “Kau tahu bahwa itu bakal sia-sia, gagal, tak berarti, buruk dan bahkan amat berisiko, toh kenapakah kau tak jerah-jerah juga? Tak segera kau lepas dan tinggalkan?” Terlekat pada ‘yang lama’ bakal menutup segala peluang dan berbagai kemungkinan baru. Yang membebaskan dan mencerahkan!
Inikah yang disebut ketakberdayaan? Ataukah tetap dibutuhkan lagi rahmat yang terus mengalir demi sebuah keberanian hati dan keberserahan diri? Ada paparan hidup yang semestinya, yang diidealkan, yang dicita-citakan, tetapi…?
Betapa terseok dan tertati-tatinya irama hidup di jalan kenyataan. Si bijak terus menantang, “Kau idealkan hidup damai, rukun dan tenang di hati. Namun kenapakah tak kau lepaskan segera dan singkirkan sudah segala dendam, amarah dan rasa benci?”
Dan lagi, “Bukannya kau tak tahu telah berjalan dalam suram. Dituntun oleh peta hidup buta tak jelas arah, namun kenapakah kau tak segera menggantikannya dengan kompas hidup nan pasti? Yang kau kejar dan raih adalah yang bukan ciptakan kepuasan dan kebahagiaan rohani sewajarnya, tetapi yang justru cemarkan mata air spiritual. Namun, kenapakah kau tak mau lepaskan dan tinggalkan semuanya?”





