Sebuah ajakan menyentuh kembali kita sunting seputar relasi dan kekariban yang semestinya dirawat, “Ada yang mesti kupikir lagi. Melepas dendam dan sakit hati. Dan berjuang membendung benci. Tuhan, jagalah tanganku” (Ada yang tak mampu kulupa – Ebiet G Ade). Hanya dengan cara itulah tetaplah segar berseri sebuah jalinan keakraban. Mungkinkah lahir sebuah alam damai hanya dalam diam menatap langit, sementara di bumi tangan tak diniatkan untuk berjabatan dan kembali untuk bergandengan bersama?
Tetapi, di hidup ini, di peziarahan kesementaraan ini, ‘Adakah yang tak mampu kulupa, kutinggalkan, kulepaskan. Yang tetap kugandeng dan yang tetap terikat pada pangkalan hati?’
Kelekatan pada yang palsu, yang bersifat bayang dan ilutif, yang tak bernilai, kosong dan fana serta penuh mimpi banyak bolongnya memang menuntut keberanian dan kekuatan hati untuk melepaskannya.
Bagaimana pun di awal dan akhir tahun ini, setiap kita tentu tetap dibentur dalam tanya penuh serius: “Adakah yang tak mampu kita buang? Dan bakal terus kita bawa ke episode waktu berikutnya?”
Di sini, sebenarnya, kita sudah pada paham apa artinya berbenah diri. Untuk bercermin demi ‘lihat luka bernana di wajah kita.’ Dan dari situlah kita bertarung ‘memerangi diri sejadinya. Kembali mengasa harapan dalam peziarahan ini….’
Berziarah dalam pengharapan tentu juga dalam kekuatan dan citra diri sendiri yang positif. Tak sebatas kisah getir yang teralami, toh ada pula tumpukan nostalgia yang membekaskan sukacita. Kita diteguhkan dan diperkaya dalam hidup di setiap perjumpaan yang dialami. Kita tak pernah jalan sendiri dalam tapak-tapak ziarah pengharapan ini.





