Akupun Tidak Menghukum Engkau

JOHN NABEN1

Perempuan dalam cerita itu tetap menunduk dan diam. Dia mengakui kesalahannya pun tidak bergeming meminta maaf, apalagi memohon belas kasihan. Dia sadar, dia patut dilempari batu atau harus di hukum. Keheningannya dapat dilihat dalam banyak hal, tetapi itu menunjukkan bahwa dia tidak mencari-cari alasan. Maka, boleh dikatakan bahwa terhadap sesuatu yang sulit untuk dipecahkan dengan akal sehat, diam adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikannya.

Baik orang banyak (termasuk Orang Farisi dan Ahli Taurat) maupun perempuan itu telah menyimpang dari hati mereka sendiri dan hukum Allah. Kita pun melakukan hal yang sama. Seperti perempuan itu, kita mungkin mengabaikan perintah Allah dan melakukan apa yang kita inginkan. Atau seperti orang banyak, kita mungkin menggunakan hukum untuk memisahkan ‘kita’ dari ‘mereka’, dan menginginkan hukuman bagi ‘orang lain’ yang gagal.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Yesus juga menunjukkan kepercayaan-Nya kepada orang banyak. Yesus tampaknya tahu dan yakin benar bahwa tidak seorang pun akan melempar batu. Yesus percaya bahwa kebaikan mereka akan bersinar saat ditantang. Kita dapat belajar dari hal ini dalam masyarakat kita.

Mantra yang bagus untuk Injil ini adalah ‘Maafkan dia. Ubahlah aku’. Mantra ini mengingatkan kita untuk menunjukkan belas kasihan dan mencari perubahan diri yang otentik. Namun untuk sampai pada pemahaman mantra; ‘Maafkan dia. Ubahlah aku’, mari kita dalami satu atau dua pokok berikut ini:

Ada 3 pihak terkait dalam cerita Injil itu. Pertama, Perempuan berdosa. Ia kedapatan berzina. Sudah pasti mendatangkan malu, terpojok, tak berdaya, menjadi tontonan banyak orang, pasrah, putus asa dan siap terima saja apa yang akan menimpah dirinya. Kedua, Orang Farisi dan Ahli Taurat. Mereka adalah kelompok pemegang Hukum Taurat. Maka, perbuatan zina melanggar. Untuk itu, perempuan itu harus dihukum mati. Ketiga, Yesus. Orang Farisi dan Ahli Taurat, membawa perempuan itu kepada Yesus. Tujuan utama bukan untuk mencari keadilan melainkan untuk mencobai Yesus.
Yesus dalam menghadapi situasi yang dilematis ini harus bijak. Dia harus mempertimbangkan baik dan buruknya. Kalau Yesus setuju agar perempuan itu dihukum, maka itu bertolak belakang dengan ajaran-Nya tentang cinta kasih, belas kasih, pengampunan, berbuat baik kepada semua orang; khususnya orang yang bersalah kepada kita. Dan kalau Yesus tidak setuju, itu berarti Yesus melawan atau tidak taat kepada Hukum Taurat Musa.

Pos terkait