Ketiga, Yesus memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk memperbaiki diri atau bertobat. Kata Yesus kepada perempuan itu: ‘Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi mulai dari sekarang’ (lih. Yoh. 8:11). Perintah Yesus ini bukan berarti membiarkan perempuan itu berbuat dosa lagi. Bisa kita rumuskan kata-kata Yesus secara lain, misalnya: ‘sekarang saya tidak menghukum engkau. Pergilah dan tunjukkanlah bahwa engkau bisa berubah dan menjadi baik dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Di sini, Yesus memberi kesempatan kepadanya untuk bertobat dan memperbaiki diri. Yesus memperhitungkan kehendak baik orang untuk berubah, untuk membangun masa depannya. Yesus membenci dosa tetapi Yesus menaruh belas kasihan kepada orang berdosa yang mau bertobat. Untuk orang yang mau bertobat, masa depan adalah kesempatan untuk berbenah diri atau memperbaiki diri.
Kehadiran Yesus selama masa tobat atau masa puasa ini, menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang Maharahim, penuh belas kasihan dan pengampun. Allah kita bukanlah Allah yang menghakimi, yang mengadili atau Allah yang menghukum. Dia adalah Allah yang Bijak.
Yesus mengenal kekuatan dan kelemahan kita. Kita manusia perlu jujur dan terbuka kepada kehendak Allah dalam diri kita. Kita juga harus sadar diri bahwa kita lemah dan berdosa. Dengan demikian, kita bisa saling mengerti dan memahami bahwa kita semua adalah manusia yang lemah, yang perlu saling membantu. Masa tobat yang kita jalani ini adalah masa untuk kita masuk ke dalam diri, melihat kelemahan dan dosa-dosa kita untuk bertobat. Akhirnya, masing-masing kita boleh memohon; Tuhanku, ‘Maafkan dia. Ubahlah aku’. *







