Reaksi Yesus ialah menulis di tanah. Yesus tidak memberi jawaban ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’. Dan atas desakkan orang Yahudi juga Ahli Taurat, Yesus berkata: ‘Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu’ (Lih. Yoh. 8:7). Mendengar itu, mereka pergi, meninggalkan Yesus dan perempuan itu (bdk. Yoh. 8:9).
Sikap Orang Farisi dan Ahli Taurat: sebagai pemegang hukum; perempuan itu harus dirajam dengan batu. Dan mereka melihat perempuan itu bukan lagi sebagai seorang manusia, melainkan sebagai suatu barang; untuk membenarkan rencana mereka; yakni mencobai Yesus. Juga mereka melihat perempuan itu, sebagai obyek untuk mempersalahkan Yesus.
Sikap Yesus; pertama, hanya orang yang tidak bersalah, yang boleh menjatuhkan hukuman kepada orang lain. Nasehat Yesus yang lain: jangan menghakimi, kamu pun tidak dihakimi; ada balok di dalam mata sendiri (bdk. Mat. 7:1-5; Luk. 6:37-38, 41-42). Dan hanya Yesus yang bisa menghukum orang yang bersalah, sebab hanya Yesus, yang tidak bersalah. Kita manusia, tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu, seturut pernyataan Yesus, tak satu pun dari kita termasuk Orang Farisi dan Ahli Taurat, yang berhak menghukum perempuan itu.
Kedua, Yesus memandang perempuan itu dengan penuh belas kasihan. Orang yang bersalah perlu dikasihani. Mudah bagi Yesus, namun sulit bagi kita untuk berbelas kasih kepada orang yang berbuat salah kepada kita. Berhadapan dengan orang yang melakukan kesahalan kepada kita; kita pasti marah, jengkel dan berusaha untuk balas dendam. Sulit bagi kita untuk mengampuni atau memaafkannya. Bagi orang Farisi dan Ahli Taurat; perempuan itu harus dilempari batu sampai mati. Bagi Yesus; perempuan itu harus diselamatkan; harus dibebaskan; harus diampuni.







