Consumatum Est, Sudah Selesai

JOHN NABEN1

Kedua, nasehat Yesus kepada wanita-wanita Yerusalem yang menangisi-Nya. Tapak-tapak Golgota membias kenangan. Air mata wanita-wanita Yerusalem, yang mengikuti Yesus di jalan salib mengalir tak terbendung lagi. Teriris hati mereka menatap Yesus telanjang dada dengan bilur di sekucur tubuh, dikawal  prajurit dengan cambuk dan cemeti, sembari memikul salib menuju Bukit Kalvari. Sungguh, mereka tak sudi menyaksikan kengerian itu. Mereka tak tahu harus mengatakan apa tentang getar-getar perasaan mereka, tentang rasa duka dan solidaritas mereka terhadap penderitaan Yesus. Yang ada hanyalah kepasrahan. Kepasrahan cinta para wanita Yerusalem yang letih dan gerah, yang tak berdaya dan tak punya kuasa untuk melawan para penguasa lalim dan para sedadu bengis yang  telah mempertontonkan episode penderitaan yang sungguh tidak berprikemanusiaan.

Yesus menanggapi rasa iba dan mendengar ratapan mereka.  Dia tak mau kita terlarut dalam rasa duka yang berkepanjangan, mengharukan, menggetarkan dan menusuk nurani kemanusiaan kita. Jangan kamu menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu. Nasihat yang diperdengarkan kepada para wanita ini merupakan kritikan pedas untuk kita. Dengan ini, Yesus menginginkan kita menangisi atau menyadari dosa kita. Kita berbalik dari dosa, yang berarti merubah sikap batin dan pandangan hidup, melepaskan masa silam yang kelabu, mengakui kesalahan-kesalahan, menghilangkan nilai-nilai yang dihayati secara palsu, membebaskan diri dari keterkungkungan diri yang egoistis dan egosentris, melenyapkan sikap pasrah terhadap kenyataan ketakberdayaan yang diperdayakan, membebaskan diri dari ikatan yang tidak berkenan kepada Tuhan, yang berlawanan dengan tuntutan Ilahi.

Pos terkait