Consumatum Est, Sudah Selesai

JOHN NABEN1

Tangisi perilakumu, yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah melukai hati sesamamu, baik dengan kata-kata, sikap, tindakan serta perbuatan. Tangisi caramu sebagai pemimpin yang menganggap rendah sesamamu, baik di tempat kerja, di kantor, di sekolah, di komunitas biara, yang sulit dan pelik untuk dimaafkan. Tangisi caramu menanggapi sikap dari pimpinan atau anggota yang sering berseberangan dan menghadirkan luka, yang tak kunjumg sembuh.

Peluklah mereka, ucapkanlah rasa terima kasih, rasa cinta, rasa syukur anda atas jerih-payah mereka selama ini, atas kedewasaan dan perkembangan diri yang anda terima karena kasih dan kesabaran mereka. Peluklah mereka sebagaimana anda memeluk Kristus sendiri. Jangan sampai anda menyesal dan baru menyadarinya pada saat mereka meninggalkan anda, sebagaimana prajurit yang mengungkapkan, Sungguh orang ini adalah orang benar!

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Keluarga anda adalah Salib yang dianugerahkan Tuhan. Salib yang membentuk anda untuk semakin memiliki iman yang mendalam; harapan yang membebaskan; dan kasih yang mendewasakan. Melalui keluarga, iman kita akan penyertaan Allah menjadi semakin konkret; harapan kita akan sesuatu yang fana/semu tentang kekuasaan/harta benda/kenikmatan duniawi semakin dibebaskan; dan kitapun semakin berani mengorbankan keseluruhan diri kita demi mereka yang kita cintai.

Salib bukan sekedar jalan penderitaan dan kematian, tidak ada dari kita yang mau menderita dan mati bodoh seperti Yesus yang kita sembah dan kita kecup sebentar. Tetapi Salib menjadi jalan kekudusan dan keselamatan. Kita diajak untuk berani mengikuti Kristus, dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia. Bukan mencari-cari masalah dan kesulitan, tetapi juga tidak melarikan diri dari tanggung jawab yang mesti diemban. Justru melalui salib kita semua diselamatkan. Dalam setiap tahapan hidup kita pasti memiliki salib, berupa tanggung jawab yang mesti kita pikul. Bagaimana kita berani mengambil tugas tersebut dengan sukacita bukan melemparkannya kepada orang lain? *

  • Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Novisiat SVD Kuwu, Manggarai

Pos terkait