Namun demikian setelah reformasi Golkar mengukuhkan dirinya sebagai pionir demokrasi par excellence, dengan beberapa alasan. Pertama, sebagai partai yang sudah terbiasa dengan otoritarianisme, Golkar tahu apa keburukannya dan tahu seni menghindarinya.
Kedua, dualisme kepemimpinan diselesaikan secara demokratis, yang berarti Golkar bisa menyelesaikan konflik internal secara dewasa tanpa menimbulkan perpecahan.
Ketiga, Golkar mungkin merupakan satu-satunya partai yang paling all-inclusive. Dibandingkan dengan partai besar lainnya yang mengandalkan figur atau organisasi keagamaan — misalnya PDIP kepada Megawati, Demokrat kepada SBY, Gerindra kepada Prabowo, atau Nasdem kepada Surya Paloh, selanjutnya PKB kepada NU dan PAN kepada Muhammadiyah — sebagai cantolan ideologi dan wibawa partai, Golkar sama sekali tidak nyantol kepada figur tertentu atau kepada ormas tertentu. Sejak kelahirannya Golkar memang didukung oleh ratusan organisasi kekaryaan dengan TNI dan Birokrasi sebagai sokoguru, tetapi semenjak militer dan birokrasi didepolitisasi, Golkar telah menjadi partai yang terbuka kepada semua elemen masyarakat. Beberapa partai lain mungkin saja mengikuti cara Partai Golkar, tetapi sebagai partai dengan pengalaman tua, Golkar merupakan partai harapan rakyat bagi tumbuhnya demokrasi yang sehat, di mana suara semua kalangan didengarkan untuk disalurkan dalam keputusan politik, dan yang suksesi kepemimpinannya hanya mengandalkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan dan bukan kepada figur atau ormas tertentu. (*)







