Ignas Kleden dan “Terpaksa Jalan”

ignas kleden

Dengan nasihat ini, 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒑𝒖𝒏 𝒎𝒖𝒍𝒂𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒉 𝒅𝒊 𝒕𝒂𝒏𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 ‘𝒌𝒂𝒑𝒍𝒊𝒏𝒈’ 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒍𝒂𝒈𝒊. 𝑫𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒕𝒂𝒓 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒌𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒅𝒊𝒌𝒊𝒕 𝒔𝒕𝒖𝒅𝒊 𝒉𝒐𝒎𝒊𝒍𝒆𝒕𝒊𝒌, 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒑𝒖𝒏 𝒎𝒖𝒍𝒂𝒊 𝒄𝒐𝒃𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒖𝒌 𝒌𝒆 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒖𝒌𝒊 𝒍𝒂𝒈𝒊. 𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊. 𝑰𝒕𝒖𝒍𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒍𝒐𝒈𝒊𝒔. 𝑻𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒍 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒌𝒂𝒏, 𝒊𝒍𝒎𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒅𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊. 𝑴𝒖𝒍𝒂𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒚𝒂 ‘𝒏𝒈𝒐𝒄𝒆𝒉’𝒅𝒊 𝑴𝒊𝒏𝒈𝒈𝒖𝒂𝒏 𝑯𝑰𝑫𝑼𝑷 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒕𝒖𝒍𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏.

Saya pun kemudian tanpa malu-malu menawarkan untuk menerbitkan buku HOMILI YANG MEMBUMI. Saya bermaksud meminta Kardinal Ignasius Suharyo memberikan kata pengantar. Itupun permintaan yang tidak tahu malu. Beruntung, Yang Mulia lalu menugaskan Rm Danto (Ketua Komisi Liturgi KAJ) untuk memberikan kata pengantar. Melaluinya saya hanya mau ‘ngoceh’ bahwa homili yang ‘tinggi-tinggi’ dan spekulatif itu perlu lebih membumi.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ada keberuntungan lain dari buku dan tulisan-tulisan ini. Saya pun diminta memberikan kursus homiletifk di beberapa paroki. Kepada umat yang kelihatan tidak mau tahu banyak tentang latar belakang saya, saya hanya berpesan: ikuti apa yang saya sampaikan tetapi jangan ikuti apa yang saya buat.

Setelah tulisan itu, saya pun semakin ‘tidak tahu diri lagi’. Beberapa buku renungan begitu mudah diterbitkan. Karena buku dan tulisan-tulisan itu, banyak orang yang berikan apresiasi dan tetap memanggil ‘pater’. Saya pun tidak pernah sampaikan bahwa jangan panggil. Saya biarkan saja sampai mereka tahu sendiri atau pun karena sudah tahu tetapi mereka tetap nekad.

Pos terkait