Kembali ke topik. Inspirasi pembicaraan personal dengan Ignas, itulah pengalaman pertama dan terakhir kali. Ada kesempatan lain masih bertemu dengan Ignas, tetapi saat itu ia jadi narasumber dalam diskusi Lingkar Muda untuk para penulis Kompas. Bagi saya, berbicara dengan orang pintar seperti Ignas, cukup sekali. Pesannya sudah sangat masuk hingga ke sum-sum dan berkesan hingga kini.
𝑴𝒆𝒏𝒚𝒆𝒏𝒕𝒖𝒉 𝑲𝒂𝒌𝒊
Di Rumah Duka Carolus, lt. 8 “Mikael”, memori dengan Ignas seakan dihidupkan lagi. Ada kekuatan baru ketika saya terdiam di samping mayatnya. 𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒕𝒂𝒑 𝒘𝒂𝒋𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒏𝒕𝒖𝒉𝒏𝒚𝒂. 𝒀𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒊 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒏𝒕𝒖𝒉 𝒔𝒆𝒑𝒂𝒕𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒕𝒆𝒓𝒅𝒊𝒂𝒎 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒌𝒂𝒕𝒂. Saya rasa ini sikap yang tepat untuk membiarkan roh Ignas merasuki saya dan bukan sebaliknya saya memaksakan kata-kata saya pada seorang sosiolog yang sangat disegani di republik ini.
Setelah merasa cukup, saya pun pamit pulang. 𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒐𝒈𝒐𝒉 𝒅𝒐𝒎𝒑𝒆𝒕 𝒔𝒂𝒚𝒂, 𝒕𝒆𝒓𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝑹𝒑 20.000 𝒔𝒆𝒎𝒆𝒏𝒕𝒂𝒓𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒑𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈. 𝑪𝒂𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒏𝒂𝒊𝒌 𝒌𝒆𝒓𝒆𝒕𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒎𝒖𝒓𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒌𝒆𝒏𝒅𝒂𝒓𝒂𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒊𝒕𝒊𝒕𝒊𝒑 𝒅𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒔𝒕𝒂𝒔𝒊𝒖𝒏. 𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒃𝒊𝒏𝒈𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏, 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍. 𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒌𝒆 𝑺𝒕𝒂𝒔𝒊𝒖𝒏 𝑻𝒂𝒏𝒂𝒉 𝑨𝒃𝒂𝒏𝒈, 𝒃𝒖𝒕𝒖𝒉 𝑹𝒑 36.000.
Meski bingung, saya coba gunakan pikiran saya yang sudah dijernihkan Ignas. Saya ambil keputusan melangkah saat lampu merah ke seberang, pinggir Fakultas Kedokteran UI. Setelah sampai di seberang, saya jadi sadar, kalau cara terbaik adalah jalan kaki. Inilah cara terbaik agar uang Rp 20.000 itu tetap utuh. Dan langkah pun saya ayunkan.





