Oleh Max BiaeDae

Setelah Kota Kupang diterjang badai “Seroja” dua hari dua malam, saya kira setelah itu bisa langsung mengangkat kepala dan tertawa senang. Ternyata tidak. Saya belum bisa mengangkat kepala lebih kuat dan tertawa lebih besar.
Kabar sedih menimpa kami sekeluarga secara lebih mendalam lagi. Kami diberitahu bahwa orang yang paling disayangi, kakak Daniel Dhakidae, pergi untuk selamanya. Ini kehilangan besar buat kami sekeluarga.
Bahwa beliau menjadi tokoh cendikiawan nasional pasti banyak yang sudah membaca di pelbagai tulisannya. Tetapi kehangatan sebagai saudara dan kakak di dalam keluarga juga menjadi bagian yang pasti sangat kami butuhkan.
Memang kesehatannya sudah mulai menurun semenjak kepergian istrinya, Lily pada 2019 yang lalu. Kira-kira Oktober 2020, beliau sakit agak serius tapi kemudian baik kembali. Sejak itu, saya agak rutin menanyakan keadaan kesehatanya. Bilangnya kesehatannya sudah lebih baik, dan sedang dalam proses recovery. Kemudian mendapat serangan lagi yang terakhir, sampai dengan ajal menjemputnya beberapa hari lalu.
Saya memanggilnya kakak. Tetapi usianya sebaya dengan ayah saya. Hanya status di rumah menempatkan kami sebagai kakak beradik. Kami berasal dari satu rumah dalam pengertian sebagai extended family. Kami keluar dari kakek yang sama: “Yohanes Karolus Biae Dae.”
Dari rumah yang dimaksudkan, kami membangun kebersamaan sebagai kakak beradik. Sebab itu, semua rencana dan keputusan penting berkaitan dengan kebersamaan di rumah akan dirundingkan secara kakak beradik pula. Untuk itulah walaupun jauh, beliau salalu dikonfirmasi meski via telepon atau pesan singkat, misalnya.





