Pengalaman ini benar-benar traumatik baginya. Ketika akan berangkat ke Cornel University namanya tiba-tiba dicalling dari ruang informasi bandara. Waktu itu, Daniel sudah di ruang tunggu. Beliau dipanggil keluar dari ruang tunggu secepatnya. Katanya, beliau harus menyelesaikan urusan yang sangat penting pada saat itu juga. Di dalam hatinya dia bilang, “sekarang pasti batal lagi ke Amerika.”
Dari jauh dilihatnya sahabat dekatnya, Dr. Sjahrir di dalam ruang informasi Bandara Halim. Semakin yakin di hatinya bahwa benar-benar batal ke Amerika. Sialan! Ttahu-tahunya, Sjahrir hanya mau menyampaikan kepada beliau bahwa Ibu Sjahrir sudah tidak punya harapan hidup dan mungkin putus napas ketika Daniel sedang dalam penerbangan ke Amerika. Mohon doanya. Sebab itu, setiap kali landing di Halim saya selalu ingat cerita Daniel ini.
Selain itu, pengalaman bersama Daniel menyejukkan. Daniel tidak pernah menggurui. “Harus begini atau begitu.” Motivasi kepada orang tidak didorong lewat kata-kata. Beliau memberi motivasi kepada orang dengan cara yang sangat unik. Satu dua pengalaman bersama beliau, menurut saya, sangat mendidik.
Saya ingat tahun 2003 ketika di rumah “Sao Ende” di Wekaskeo, saya berbaring di sofa. Lantas saya kaget karena beliau meletakkan majalah der Spiegel (majalah berbahasa Jerman) di kepala saya. Memang bahasa Jerman kami belajar di Hokeng tetapi setelah itu putus dan tidak lanjut lagi. Namun, tindakan beliau itu sarat pesan. Itulah yang membuat saya termotivasi untuk harus belajar lagi bahasa Jerman, walaupun hanya untuk membaca buku atau literartur berbahasa Jerman, seperti mengakses der Spiegel versi online.





