Rumah yang lazim disebut untuk kami adalah Sao Ende karena dari Daniel juga saya tahu, bahan-bahan rumah itu semuanya dibeli dan diambil dari Ende. Rumah menjadi penting menurutnya. “Kita harus membangun Indonesia dari Wekaseko.” Demikian selalu dikatakannya dalam setiap kesempatan kalau ada di rumah di kampung, Wekaseko.
Dari rumah juga nama seseorang biasanya diberikan. Sebagaimana kebiasaan umumnya, kami orang Wekaseko di Toto-Nagekeo juga mempunyai kebiasaan memberi nama yang diambil dari kakek atau nenek setelah nama santo atau santa. Sebab itu, nama belakangnya “Dhakidae”, nama yang membawa dua klan sekaligus. “Dhaki” mewakili kakek dari garis keturunan ibu dari klan Gani Nuwa. Sedangkan “Dae”adalah nama kakeknya dari klan ayahnya. Maksudnya agar semangat hidup dari kakek atau nenek tetap dipertahankan dan pribadi mereka tetap dikenang juga.
Sedangkan “Residen Maier” adalah nama yang dibaptis baru oleh kami berdua sendiri karena pengalaman unik tahun 2006. Beliau dibaptis dengan “Residen Maier van Koepang” sedangkan saya dibaptis dengan nama baru: “Letnan De Vries.” Nama ini lebih merupakan nama untuk merayakan data, demikian kalau filsuf Paul Ricouer bisa saya pinjam.
Ceritanya panjang, tetapi bisa disingkat begini. Waktu itu kami mengoreksi kekeliruan historis tentang Perang Watu Api yang diteliti oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, PPO Provinsi NTT.
Setelah mendapatkan sumber-sumber dari arsip kerajaan Belanda di Denhaag baru terbuka informasi tentang sebab kematian Nipado pada tahun 1916 karena ditembak oleh pasukan militer di bawah komando Letnan De Vries. Peristiwa ini dilaporkan Letnan De Vries ke Koepang kepada Residen yang bernama Residen Maier.





