Meski kita berakal, tetapi pada kadar tertentu kewarasan akal bisa menjurus samar yang dapat mengancam nyawa sesama. Jika yang terlihat hanya lengkingan nekat maka ujungnya bakal berguling liuk pada kuali sesat dan menyesakkan rongga dada. Karena itu jalan pulang adalah afirmasi damai menuju tenang dan seimbang. Teduh dan membebaskan. Legah dan membuahkan kedamaian.
Jalan pulang adalah ajakan, tawaran serentak awasan untuk mengenal lebih jauh reliatas sosial kehidupan dan kebersamaan kita. Ingatan yang mengharuskan kita bermenung dalam meditatif yang kontemplatif. Di sanalah kita menemukan bahasa hati terdalam dan formulasi pijakan untuk merayakan tarian kehidupan ini.
Jalan pulang menjadi media insaf ketika terpekur sadar berhadapan dengan duka yang sedang menampar wajah jurnalis Manggarai Timur. Duka mendalam karena pualam hati dan kesadaran etik terlempar jauh dari bela rasa sesama sebagai saudara, senasib, dan sepenanggungan.
Wartawan aniaya wartawan. Dua sahabat karib, AK-FJ. Di perhentian waktu menuju pembaringan, tiba-tiba AK datang menyerang FJ dan “mengadilinya”. FJ tidak berdaya karena “perseteruan” berlangsung tak seimbang. Akibatnya FJ menderita luka pada alis mata kanan dan sejumlah benturan pada sekujur tubuhnya.
AK bertindak nekat terhadap FJ, dipicu akun FB Rugha Bhoto.Tanpa verifikasi identitas pemilik akun tersebut, AK tempuh jalan pintas. Sebab emosinya meluap karena tilikan kata dan kalimat pada teras FB tersebut melukai hati dan kemanusiaan seorang AK dan keluarganya.






