Mengalami hal itu FJ mengadukan AK kepada pihak berwajib. Hasil penelusuran aparat Polres Manggarai Timur membuktikan AK bersama adiknya ditetapkan sebagai tersangka. Dan kini sedang mendekam di balik jeruji besi untuk proses selanjutnya.
Menyaksikan detik-detik AK bersama adiknya menuju ruang tahanan, hati ini trenyuh. Betapa tersayatnya jiwa seorang AK harus menangggung borok nana berkepanjangan itu. Meski ada garis senyum, namun terasa hambar. Tak longgar dan lepas. AK yang dalam lingkaran sesama jurnalis termasuk senior, terpaksa harus melangkah menuju ruang tahanan karena kurang selektif menyiasati problematika hidup yang menghampirinya.
Rasanya sulit percaya. Karena itu bela duka bertautan. Sesal meregang hingga lelah. Tak kuasa melumat semua adegan itu. Tak jua luput dari sekelumit tanya yang menyisahkan pertanyaan. Karena itu,” Adakah pintu maaf tersingkap bagi AK dan adiknya dari bilik hati seorang FJ? Adakah kepuasan yang harus dirayakan seorang FJ karena berhasil menjebolkan seorang AK? Adakah butir-butir sesal yang mengalir pada sudut batin seorang AK dan adiknya sehingga merapatkan raga seraya mendamba maaf dari Firman Jaya?
Jika belum, pantaskah membiarkan tanpa ada niat untuk menyatakan dari hati ke hati atas semuanya? Di situlah butuh jalan pulang. Jalan menuju kebaikan bersama. Menuju ketenangan batin.Jalan pulang bertujuan menyejukkan batin AK dan FJ seraya bertukar maaf dalam konteks manusia dan kemanusiaan. Sebagai sesama saudara. Rekan kerja.
Peristiwa menyakitkan ini melukai bukan saja AK dan FJ, tetapi dunia jurnalis di Manggarai Timur itu sendiri. Peristiwa tersebut menghentakkan kita semua. Terjadi menjelang puncak perayaan Paskah kebangkitan Yesus. Mungkin di balik peristiwa ini ada teguran dari pemilik hidup. Ada hal-hal yang perlu direkat kuat. Ada hal yang perlu dibenahi.







