Kau Sayat Luka Baru di Atas Duka Lama

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Bila mesti dilukis lebih jauh, manusia alami keterlukaan bagai sebuah alur hidup kerontang padang gurun. Gersang tanpa oase. Tak ada citra relasi dari hati ke hati. Meredupnya gairah penuh spontanitas. Tak ada dialog. Tiada kewajaran dalam bertanya untuk dapatkan sebuah jawaban. Kita terluka dalam cercaan serba hitam dan pekat. Semuanya berujung agar hidup dan kisah kita ‘tinggal cerita hati yang luka.’

Hidup Nan Keras dan Gersang?

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kita terluka pun karena alam hidup yang keras. Terforma dalam indoktrinasi yang mesti ditaati bulat-bulat dan buta. Sebab ‘naluri tanya dan ragu telah terkebiri.’ Hak bicara dan bersuara telah dicopot paksa. Mari bayangkan saja dinamika sebuah taman sekolah yang dipaksa dalam ‘penghafalan tanpa paham. Yang mudah terbelenggu dalam rantai tekanan menuju fanatisme.’

Kita sungguh jadi manusia terluka dan tersakiti karena forma potret kehidupan yang gersang dan keropos itu. Itulah kehidupan yang tak dirayakan bersama. Hidup yang tak disyukuri bersama. Hidup yang tak dirosting santai hingga  nasib kehidupan yang tak ditangisi bersama!

Memang, sepertinya ‘spiritualisme dunia manjakan kita dengan narasi dan karoseri diksi yang sedap terdengar. “EGP (Emangnya Gua Pikirin), Persetan! Bodo amat! Urus diri dan atur hidup masing-masing!” Dalam ketidakpedulian dan ‘malas tahu,’ jarak fisik semakin jauh. Dan jarak batin pun semakin menebal. Sayangnya, justru di situlah luka-luka kehidupan semakin menganga.

Beban Spiritualisme

Apa yang diyakini sebagai EGP atau gema sejenisnya, justru pada titiknya tetap membuat manusia terluka dan tersakiti. Yang justru bikin manusia itu kepikiran dalam sesal dan terjerembab pada penghakiman terhadap diri sendiri.

Pos terkait