Satu keyakinan dari Sang Bijak, “Bagi orang Kristen kebohongan terbesar adalah tetap memandang orang lain tanpa belas kasihan. Kita jadi buta atas kebaikan-kebaikan mereka dan tetap membebani mereka dengan segala beban-beban kesalahan dan dosa mereka.” Inilah kekejaman hati nurani sempit yang sekian takut dan jadi pengecut ‘untuk memaafkan dan mengampuni.’
Siapa pun manusia, di dalam ziarah kehidupan ini, tentu berlangkah dalam beban-beban derita. Dan lewati kisah-kisah hidup tak elok. Sebesar atau sekecil apapun. Dalam ziarah rohani, pun dalam bahtera institusi keagamaan yang lebih luas, riak-riak luka dan duka tampak nyata tak tersembunyikan. Luka-luka mesti dibikin terlihat menganga.
Seluruh Diri Kita Berada
Satu catatan patut disimak, “Sungguh sulit untuk bersifat fair dan obyektif karena setiap orang termasuk aku, ikut terperangkap dalam kemelut. Tak seorangpun dari kita bebas.” Namun, bagaimana pun, mesti diusahakan agar setiap orang sanggup untuk merasakan bahwa di suatu tempat dan lingkungan di situlah seluruh dirinya berada…
Seruan profetis, misalnya, mesti digemakan dalam konteks komunio, persekutuan dan rasa persaudaraan yang menjadi muara dan kiblat hati bersama. Sebab itulah, “Kita harus menolak untuk berbicara tentang Gereja seolah-olah di sana ada pahlawan-pahlawan yang baik dan penjahat-pejahat yang keji. “
Tidakkah tampilan nabi di dalam Gereja sering diaplaus’ sebagai “orang yang berdiri menentang para pejabat Gereja dan mengumumkan kegagalan mereka. Nubuat kenabian sering dipandang sebagai pengumuman tentang kesalahan orang lain?”






