Kita Mesti Kembali Pulang
Sejatinya, yang mendasar dalam satu persekutuan adalah promosi dan usaha nyata yang sehat dan seharusnya dalam mengatasi pemisahan. Memang, tak mudahlah untuk “harus memanggil satu sama lain agar pulang dari pengasingan” untuk tak terus merasa sakit dan terus saling melukai….
Memang, dalam kenyataan yang paling dalam, tak mudahlah untuk melupakan momentum saat kita tersekap dalam ketidakpedulian. Terdengar simpel, namun tak semudah dalam memulainya. Kata si bijak, “Hadapi rasa sakit itu. Akui kegersangan yang ada, dan ampunilah siapapun yang pernah ciptakan luka di hati kita.”
Tuhan Tak Pernah Curang
Tetapi juga bahwa kita tetap belajar untuk “membuka hati untuk kehadiran orang lain. Untuk belajar mendidik diri sendiri bahwa untuk segala sesuatu di kesementaraan ini selalu ada titik-titik risikonya. Kisah nyata dan ungkapan iman Nabi Ayub bisa jadi inspirasi. Bahwa Tuhan tak sedikit pun berlaku curang di dalam kisah-kisah batin yang dirasakan, dan di dalam ziarah nyata alur pengalaman hidupnya.
Dalam iman dan keyakinan akan Tuhan, setiap kita bukanlah orang yang terus terluka dan tersakiti. Namun di atas segalanya kita adalah insan beriman yang dikasihi. Dan kita sungguh miliki pengharapan di dalamnya.
Verbo Dei Amorem Spiranti
- Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Collegio San Pietro – Roma






