Oleh P. Kons Beo, SVD
“Mimbar kemanusiaan berada dalam hati yang sunyi. Tidak pernah dalam pikiran yang berisik” (Kahlil Gibran, penulis-penyair-seniman, Libanon 1882 – New York 1931)
Derita Kemanusiaan itu Sungguh Terjadi
Serangan militer itu belum ada tanda-tanda endingnya. Militer Rusia, yang ditafsir arogan, tampak masih begitu leluasa membombardir target-target penting di Ukraina. Dunia
tersentak. Apa yang diduga tak bakal terjadi, kini sungguh jadi nyata lewati dua pekan ini. Dua negara serumpun Slavia dengan banyak kemiripan, Presiden Vladimir-Rusia dan Presiden Volodymyr-Ukraina, kisahkan sejarah baru dalam konflik bersenjata.
Klaim demi pembenaran agresi itu telah disuarakan. Vladimir Putin, Presiden Rusia, punya setumpuk alasan untuk operasi militer itu (Kamis, 24.2.2022). Bila harus disederhanakan, maka pidato Putin itu terdengar dan terbaca emosional. Tapi serentak pula rasional. Dan pasti membalut kepentingan politik Putin sendiri. Putin, yang hemat senyum itu, telah sungguh cerdas dalam politisasi emosional.
Soviet Boleh Runtuh, Tapi Rusia Tetap Kokoh
26 Desember 1991 Uni Soviet resmi runtuh. Mikhail Gorbachev, pemimpin tertinggi Sovyet mengundurkan diri. Negara-negara ‘pecahan baru’ pun muncul. Tak lagi di bawah cengkraman Kremlin. Kini, berkuasalah Barat sebagai ‘penguasa tunggal’ di jagat ini.
Menafsir kata-kata Putin, PBB sepertinya dijadikan Barat sebagai arena penuh trik demi memenangkan meja perundingan. Dan NATO sendiri tak ubah bagai kendaraan dan mesin pembunuh di lapangan.







