Tafsiran ini terkesan hiperbolik. Tetapi setidaknya itulah yang diamini oleh rakyat Rusia. Sebab itu, Rusia mesti beri pelajaran pada Ukraina ‘yang coba bersinyal zigzag demi kepentingan Barat.’ Psikologi politik nasionalisme inferior a la Putin telah membuat rakyat Rusia merasa terluka dan bahkan terhina.
Di situlah, bangkit dan bereaksi secara militer temukan rasionalisasinya. Putin harus dibenarkan! Oleh rakyat Rusia, Presiden Putin mesti dianggap sebagai pahlawan penegak harga diri dan citra bangsa. Tak hanya itu, alam global mesti akui pada saatnya Putin sungguh buktikan bahwa Barat dan NATO adalah agresor sesungguhnya terhadap bangsa-bangsa lain yang sebenarnya tak terbukti bersalah, seperti klaim senjata kimia pembunuh massa di Irak.
Putin Punya Kepentingannya Sendiri?
Bagaimana pun di konflik tragis seperti ini, tak bisa ditampik bahwa Putin pun miliki kepentingannya sendiri. Barat dan NATO-nya, Ukraina yang tampak bandel dan mulai ugal-ugalan, inferioritas nasional Rusia telah dirakit Putin sebagai alasan demi kepentingannya. Cara berpikir dan sikap ‘integral-holistik’ secara politis telah terbaca nyata.
Bukankah Putin tahu bahwa terlalu lamanya dia di puncuk kepepimpinan Rusia lahirkan kejenuhan massal? Setidaknya sejak tahun 1999, Putin telah duduk di kursi kepemimpinan Rusia, yang hanya disambangi Dmitry Medyedev (2008-2012) dan Putin sendiri menjadi Perdana Menteri, dan kemudian Putin menangkan kursi kepresidenan sejak 7 Mei 2012 hingga sekarang ini.
Ada dugaan Rusia mesti dipimpin orang kuat seperti Putin. Namun, Putin tampak merasa tak cukup bila kuat hanya dikaitkan dalam hal kemajuan ekonomi Rusia di bawah dirinya. Dinobatkan dirinya sebagai salah satu tokoh berpengaruh di dunia juga tak cukup membuatnya berbesar hati.







