Mantan kekasih, Ukraina itu, kini mesti bertarung sendiri. Tak boleh ada negara manapun yang turut campur. Anehnya, Putin-Rusia sendiri bebas kuasai wilayah Donetsk dan Luhansk yang adalah teritori Ukraina. Dan bahkan dikabarkan Putin sendiri punya dekrit pengakuan terhadap Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk itu sebagai negara merdeka. Dan Rusia malah telah membangun pangkalan militer di situ dengan alasan kemanusiaan.
Tragedi Ini Harus Dihentikan…
Kini, entah mau disebut perang, invasi, okupasi, atau pun agresi Rusia atas Ukraina, toh korban terus berjatuhan. Telah timbulkan derita kemanusiaan massal dan deretan kehancuran di banyak tempat.
Kota Mykolav di Ukraina, misalnya, telah porak poranda, dengan suasana kamar jenasah yang mengharukan. Gelombang pengungsi bergerak tinggalkan negeri. Keadaan sungguh pilu untuk menatap rakyat sipil yang bertahan dalam kehancuran dan ketakpastian.
Demi kemanusiaan, terutama yang dialami kaum senja usia, bayi dan anak-anak, seruan hentikan kekerasan bergaung sejagat. Gelombang protes terhadap Rusia gencar terjadi di mana-mana. Perlukah hanya sebatas “dukung atau tidak dukung Putin?” Atau lebih kejam lagi hanya sebatas ‘membaca dampak keuntungan ekonomi kenaikan harga minyak mentah tanah air akibat situasi remuk di Ukraina?’
Tragedi ini memang harus diakhiri. Tak boleh melebar dan tak boleh terus membesar. Amerika dan sekutunya dipaksa Putin untuk ‘duduk diam.’ Dan tak perlu turut campur untuk masuk dalam konflik demi hindari kemungkinan buruk yang lebih lebar, semisal Perang Dunia III.







