Pada intinya, yang diinginkan oleh Kaharuddin adalah bahwa zaman reformasi mesti menjadi sintesi yang OK dari kedua periode sebelumnya. Sungguh dikuatirkan bahwa di era kini tak nampak adanya tanda-tanda signifikan yang berkaitan dengan kesejahteraan. Dan lagi kebebasan pun terasa amat mahal.
Mari Kembali ke Area Demo
Mari abaikan sementara segala tuntuan para mahasiswa dan keterplesetan kata-kata Kaharuddin. Konsen saja pada aksi-aksi demo yang marak terjadi akhir-akhir ini. Tindakan anarkis terjadi saat demo; kekerasan dan kebrutalan nyata pada saat demo; seruan dan simbol keagamaan diperlihatkan saat demo. Dan kini sepertinya para mahasiswa punya ‘jatah untuk berdemo.’
Sungguhkah ini adalah satu demo yang pure? Demo pasti tak sekadar atau asal demo. Ia tentu telah lewati hasil kajian ilmiah. Ia berangkat dari penelitian lapangan dengan bukti-bukti empirik yang sahi. Bahwa sungguh telah terjadi ketimpangan dalam alam hidup berbangsa dan bernegara. Dan semuanya berujung pada prahara ketidakadilan, kesejahteraan yang distortif, serta berbagai tindakan yang sungguh-sungguh melawan HAM.
Demo yang berwibawa pasti beraksi dalam koordinasi yang terpola dan terfokus. Demo seperti itu tentu berada dalam alur ‘fortiter in re soavitur in modo’ (teguh dalam prinsip, lembut dalam cara). Dan demo yang elegan pasti berakhir pada satu kesepakatan dalam satu dua solusi yang tepat, meyakinkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Demo yang pure dan berwibawa seperti ini pasti bertolak belakang dengan demo yang terkesan kabur dalam apa yang hendak disampaikan. Ungkapan-ungkapan praktis kini seperti ‘mahasewa atau demo nasi bungkus’ isyaratkan adanya setting-an demo yang dikaroseri oleh para bohir yang tersembunyi namun nyata.





