Jokowi “sudah lulus” sebagai syarat untuk dilihat sebagai saingan atau musuh bersama yang mengganggu. Sulit untuk katakan bahwa tak ada ketegangan relasi antara Cikeas, Cendana, FPI, HTI, kelompok-kelompok radikal agamis, KAMI, sejumlah kelompok kepentingan lainnya atau litania pribadi-pribadi seperti Said Didu, Refli Harun, Rizal Ramli, Rocky Gerung terhadap kekuasaan di bawah Presiden Jokowi.
Bagaimana pun ‘musuh bersama’ ini tetap saja framegtaris sifatnya. Rapuh dan mudah pecah. Lain halnya jika kekuasaan di bawah Presiden adalah musuh bersama yang holistik sifatnya. Adalah tugas yang mahaberat untuk yakinkan mayoritas seluruh tumpah darah Indonesia bahwa kekuasaan di bawah Pemerintahan Jokowi adalah “musuh bersama.”
Akhirnya…
Apa yang diperjuangkan oleh para mahasiswa, bagaimana pun, tetap tinggalkan sejuta tanya. Apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh Kaharuddin dengan segalanya pengorbanannya? Benar kah sungguh tuntutan seluruh rakyat Indonesia yang diperjuangkan? Benar kah langkanya minyak goreng itu, misalnya, akibat ulahnya kekuasaan? Sungguhnya Jokowi bernafsu untuk menggenggam kekuasaan hingga tiga periode? Entahlah.
Tetapi, nampaknya tetap saja ada yang tidak bisa bersabar hati untuk bertahan hingga 2024. Tidak kah seluruh tumpah darah Indonesia berkehendak agar Presiden Jokowi tuntaskan dulu IKN (Ibu Kota Negara) itu? Katanya, dalam politik tak ada apa yang harus disebut sebagai “kesabaran.” Yang ada hanyalah kesempatan yang mesti dimanfaatkan. Jika tidak, maka ia harus diciptakan.





