(Satu Permenungan Lepas)
Oleh P. Kons Beo, SVD
Hari Minggu Paska Rasa Jumat Agung
Dahaga rohani sedikitnya terjawab. Setidaknya saat dibuka kembali kesempatan jumpa umat dalam gedung gereja (kapela). Pekan Suci yang ditiadakan tahun kemarin, tahun ini terhembus angin segar. Pekan Suci dapat dirayakan dalam gereja (kapela). Tentu tetap dipatuhi serius protokol Covid-19. Animo rohani dan gairah liturgis umat sekian meletup tak terkirakan.
Ancaman Covid-19 telah setahun lebih sepertinya tak ‘berarti lagi’ untuk segera masuk kembali dalam atmosfer Pekan Suci. Ketika cerita Paskah Tuhan dirayakan bersama di gereja. Iman bukan cuma bicara seputar relasi pribadi dengan Tuhan. Tetapi iman dirasa lebih menebal saat dirayakan bersama sebagai leiton-ergon (karya bersama/publik). Sayangnya, monster Covid-19 belumlah tergusur berakhir, datanglah serangan teror sungguh menyentak.
Lihat saja! Pasutri L-YSF itu terbilang nekat. Serangan bom bunuh diri di Katedral Makassar pada Minggu Palma itu jadi sinyal ketidakamanan. Jaringan teror tetap jadi momok. Bahkan, mungkin tak terbayangkan, begitu nekad dan mudahnya si Zaikiah Aini menerobos Mabes Polri untuk todongkan senjata. Bila markas besarnya berani diserang, maka apa ini berarti pos-pos keamanan skala ‘kecil’ bakal menjadi target gampangan?
Duka dan rasa tak nyaman belumlah pudar. Kini giliran alam menghardik amat tak bersahabat. Air mata duka dipaksa jatuh di seantero NTT. “Bibit Siklon 99S Terdeksi Menguat di Laut Sawu…”, tulis Kompas. “…hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang di hampir seluruh wilayah NTT dalam beberapa hari ke depan,” kata Agung Sudiono Abadi, Kepala Stasion Meteorologi, Kupang.





