Bahasa dan tindak solider selalu mengalir dari rasa empati mendalam. Dalam duka bersama, segala ‘aku’ dan ‘dia-mereka-di sana-yang bukan kami’ mesti terlebur menjadi ‘kita semua…’ Berani belajar untuk mengatakan ‘kita’ adalah panggilan luhur untuk saling mendoakan, saling berbagi, saling menolong, saling ulurkan serentak gandengkan tangan demi satu compassion yang tulus. Kata si bijak, “Bila memang tak sanggup menambal luka seseorang, janganlah cenderung lebarkan deritanya.”
“Berani mengatakan kita” dan “sikap berbelarasa yang sehat” adalah ungkapan penuh harapan untuk membalut beban serta luka dan derita bersama. Rasul Paulus tentu benar untuk mengajak, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rom 12:15). Lawan dari sepenasib dan sepenanggungan adalah ketidakpedulian. Apakah itu terjadi pada siaran-siaran tertentu akhir-akhir ini yang lebih getol fokus pada pernikahan artis ketimbang derita dan air mata di kawasan NTT? Entahlah! Kita mesti berjuang melawan tawar hati ketidakpedulian itu.
Tuhan Sertamu
Tiada kesedihan para murid selain harus merasa ‘terjebak rasa’ kecewa akan Yesus, Tuhan dan Guru. Ketika Yesus, ternyata, tak berdaya sedikitpun untuk harus menderita, dihinakan dan pada akhirnya wafat di kehinaan salib. Ajakan untuk kembali memeluk dan mencium salib mungkinkah telah dirancang alam dengan cara sedemikian ‘unik’? Bahwa kita wajib saling mencuci kaki sesama, berani ‘saling mencium’ luka-luka dan derita Tuhan yang tersalib dalam duka derita di tengah situasi bencana yang kita alami bersama?





